Diajukan untuk lomba essay UPBM UNPAD 2011
Oleh : Yolanda Gina Novita XII IPA 1
Tema : Budaya tradisional: Dulu, sekarang dan di masa depan
Judul : Kerajinan sulaman tangan
Budaya daerah adalah sesuatu yang sangat unik dan patut untuk dilestarikan. Salah satu budaya yang patut kita lestarikan adalah sulaman tangan. Kerajinan sulaman tangan adalah kerajinan yang dilakukan dengan menggunakan benang dan jarum jahit yang dikerjakan secara manual,yaitu dengan menggunakan tangan penyulam itu sendiri tanpa bantuan mesin. Sulaman tangan sudah dikembangkan sejak tahun 1850 M. Namun,sekarang ini perkembangannya telah mengalami penurunan.
Pada awal tahun 1900 M, umumnya kaum ibu rumah tangga atau anak gadis pandai menjahit sulaman tangan. Selain untuk mengembangkan budaya, mereka menjahit sulaman tangan untuk menambah pendapatan keluarga. Contohnya saja di Kenagarian Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat sangat banyak ditemukan penyulam muda. Mereka menyulam setelah pulang sekolah untuk membantu orang tua mereka.
Mengingat sulaman tangan merupakan warisan nenek moyang,maka sudah sepantasnya kerajinan ini kita kembangkan. Sebab, jika tidak dikembangkan, maka budaya kita ini lama-kelamaan pasti akan punah. Jika setiap wanita di suatu rumah minimal memiliki pakaian yang disulam, hal tersebut sudah dapat dikatakan sebagai tindakan dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya ini. Selain itu, cara lainnya adalah dengan memakai pakaian sulaman tersebut pada baju dinas PNS ataupun dalam acara adat seperti, hajatan dan pertemuan arisan kalangan ibu-ibu. Pakaian yang dapat mereka gunakan adalah jilbab ,kebaya , baju kurung, salendang yang disulam, atau seperti contoh yang di atas yaitu baju dinas PNS yang di sulam. Dengan cara-cara di atas secara tidak lansung, mereka telah mengembangkan budaya sendiri.
Sekarang hanya segelintir orang yang masih berusaha untuk mengembangkan kerajinan tangan ini. Beberapa alasan kenapa mereka tetap mengembangkan kerajinan ini ialah karena sulaman tangan merupakan mata pencaharian mereka. Adapula yang benar-benar ingin mengembangkan budaya ini. Tidak banyak orang yang masih memberikan perhatian untuk terus mengembangkan budaya ini. Sampai saat ini kita bisa membandingkan keadaan dahulu dengan keadaan sekarang. Jika pada awal berkembangnya kerajinan ini tahun 1900 M, setiap anak perempuan yang ibunya memiliki profesi sebagai penyulam, ia pasti bisa menyulam. Namun untuk zaman sekarang, jika di setiap rumah ada seorang ibu yang berprofesi sebagai penyulam, belum tentu anaknya pandai menyulam. Selain itu, jika anak tersebut pandai menyulam belum tentu mereka selalu dapat menyulam setiap harinya, karena banyaknya kegiatan atau tugas yang diberikan sekolah kepada anak tersebut, ataupun karena keaktivan anak tersebut dalam organisasi di lingkungan sekitar sehingga menyita sebagian besar waktu mereka.
Sebagai contohnya dapat kita lihat pada toko sulaman tangan Giosya Embroidery dan toko Putri Ayu. Tujuan utama kedua toko tersebut adalah menjadikan sulaman sebagai mata pencaharian utama keluarga mereka. Meskipun mereka lebih memperioritaskan usaha ini sebagai mata pencaharian, tetapi secara tidak lansung mereka telah berusaha mengembangkan kerajinan sulaman tangan ini. Lain halnya dengan Ibu Yenni, dia adalah seorang jutawan yang sangat tertarik dengan sulaman tangan. Ia mendirikan sebuah kelompok pengrajin sulaman tangan Balai Gurah. Tujuannya adalah untuk mengembangkan sulaman tangan Ampek Angkek. Ia berencana memberikan modal kepada para pengrajin dalam bentuk simpan pinjam Koperasi Pengrajin karena pada umumnya pengrajin Ampek Angkek tidak dapat berkembang secara maksimal. Ketidakmampuan tersebut disebabkan oleh faktor modal. Tujuan lainnya adalah untuk mengembangkan sulaman tangan yang lebih modern dan tidak hanya terfokus pada baju, salendang, kerudung dan koko, tetapi pada produk sepatu, dompet, taplak meja, tas, dan lain sebagainya.
Koperasi tersebut menggunakan Bunga Dahlia sebagai lambangnya. Penggunaan bunga dahlia sebagai lambang suatu perkumpulan juga akan digalakkan di Kota Bukittinggi. Oleh sebab itu, Ibu Yeni berusaha untuk membuat salendang sulaman dengan motif bunga dahlia untuk dipajang di setiap lobi hotel di Bukittinggi. Adaaun warna dasar yang digunakan pada salendang tersebut adalah warna marawa (hitam,merah dan kuning). Tujuan dari ini semua tidak lain untuk mengembangkan kerajinan sulaman tangan khas Minangkabau terutama sulaman tangan khas Ampek Angkek.
Mengembangkan budaya adalah suatu kewajiban bagi kita generasi muda,karena budaya adalah titipan leluhur yang harus selalu kita jaga dan kita kembangkan. Kebudayaan adalah suatu kebanggaan dan keindahan bagi yang memilikinya. Jadi rugilah generasi muda yang tidak tahu bahkan tidak memperdulikan adanya kebudayaan tersebut.
Kita dapat mengamati beberapa peristiwa yang mencerminkan ketidakperdulian generasi muda terhadap budaya mereka sendiri. Banyak generasi penerus bangsa yang tidak mengetahui tentang budaya mereka sendiri seperti,tarian dan nyanyian tradisional. Untuk itu, kita diharapkan untuk terus melestarikan budaya-budaya yang kita miliki seperti sulaman tangan ini. Sebab mengerjakannya tidak sulit, selain itu untuk harga jual kerajinan ini tidak terlalu mahal. Manfaatnya selain kita dapat mengembangkan kebudayaan, bagi ibu-ibu rumah tangga mampu menambah penghasilan keluarga dan mampu mengurangi angka pengangguran pasif.
Kerajinan sulaman tangan tidak hanya digunakan dan dipasarkan di daerah Sumatera Barat, tetapi juga dipasarkan kepada istri-istri pejabat. Sulaman yang biasanya digunakan yaitu salendang gadang,baju dari kain tenunan lengkap dengan kodek dan salendang kecil. Contohnya Ibu Mufida Jusuf Kalla, ia adalah pecinta sulaman tangan Minang. Ia menggunakan salendang gadang dalam acara-acara yang dihadirinya sesuai dengan situasi dan kondisi acara yang mendukung.
Jika orang lain mencintai dan menyukai serta mengagumi budaya kita,alangkah baiknya jika kita selalu berusaha untuk mengedepankan budaya kita itu, di tengah persaingan pasar bebas seperti saat ini. Sulaman tangan dapat menjadi bisnis yang sangat menjanjikan bagi mereka yang mau berusaha, ditambah lagi dengan keadaan agen-agen penyulam saat ini yang kekurangan modal untuk mengembangkan usaha mereka. Hal ini disebabkan oleh pengembang sulaman tangan bukan hanya dari kalangan orang-orang yang berkecukupan tetapi juga dikembangkan oleh ibu-ibu dengan kehidupan yang berkecukupan maupun yang tidak berkecukupan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh para agen adalah kekurangan modal untuk membayar upah pengrajin. Jadi, sebahagian pengusaha hanya memproduksi dalam jumlah sedikit dan tidak sebanyak yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha konveksi.
Dari urain di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, kita harus selalu melestarikan dan mengembangkan budaya, salah satunya adalah kerajinan sulaman tangan. Kerajinan sulaman tangan adalah investasi budaya yang sangat menguntungkan. Maksudnya, keberadan sulaman tangan ini dapat membuka peluang bisnis dan lapangan pekerjaan baru serta mengurangi angka pengangguran pasif. Selain itu, manfaat yang paling penting dari pengembangan kerajinan sulaman tangan ini ialah mengembangkan budaya khas daerah kita sendiri.
Dalam persaingan pasar, selalu saja ada yang ingin menyamainya, tetapi kekhasan, keindahan dan keaslian kerajinan sulaman tangan yang benar-benar dikerjakan dengan menggunakan tangan sangatlah tidak dapat disamakan kerajinan yang ingin menyamai eksistensi kerajinan ini. Sebab, kerajinan yang benar-benar dikerjakan dengan cara manual mempunyai nilai intrinsik tersendiri. Sehingga sulaman tangan tidak akan mengalami kemerosotan di tengah persaingan pasar yang cenderung menggunakan alat-alat dengan teknologi mutakhir. Hal ini disebabkan karena ia mampu mengimbangi pasar dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan zaman namun tetap pada prinsip dasarnya yang mana nilai intrinsik kerajinan tangan tersebut tidak akan berkurang.
